Tuesday, June 18, 2013

Jeli & Cerdas Membaca Label Makanan

Yuk,-Lebih-Jeli-&-Cerdas-Membaca-Label-Makanan
Di beberapa negara, pencantuman label gizi atau label makanan adalah hal wajib, meski ada beberapa negara yang tidak menjalankan hal tersebut.
Ada berbagai lembaga pangan di setiap negara yang menangani standar pencantuman label makanan. Di Australia ada lembaga yang di sebut FSANZ (Food Standards Australia New Zealand). Di Amerika ada FDA (Food and Drug Administration), sedangkan untuk negara-negara Eropa dinaungi oleh European Food Safety Authority disingkat EFSA.
Di Indonesia sendiri ada BPOM (badan Pengawas Obat dan Makanan) yang khusus menangani pencantuman label obat dan makanan yang beredar di Indonesia.

Apa Tujuan Pencantuman Label Informasi Gizi?

Informasi label gizi pada kemasan makanan dirancang untuk memberikan informasi tentang jumlah rata-rata energi (dalam kilojoule, kalori atau keduanya), protein, lemak, lemak jenuh, karbohidrat, gula dan natrium (komponen garam) dalam makanan, serta nutrisi lain digunakan dalam bahan makanan tersebut.
Label gizi harus disajikan dalam format standar pada semua makanan kecuali pada makanan dengan nilai gizi yang sangat sedikit (seperti air mineral), makanan yang dijual unpackaged, makanan yang dibuat dan dikemas di tempat pembelian (misalnya roti yang dijual di toko roti) dan makanan yang dikemas dalam paket yang sangat kecil.
Di Amerika Serikat, beberapa perusahaan dibebaskan dari keharusan mencantumkan label informasi nutrisi jika total penjualan produk tersebut tidak melebihi kapasitas tertentu yang ditentukan FDA, atau jika perusahaan makanan mempekerjakan kurang dari sejumlah orang.

Serving Size

Dalam sebuah label gizi biasanya dicantumkan takaran atau serving size dari setiap kemasan. Takaran ini biasanya ditulis dalam satuan gram (g) untuk makanan dan (ml) untuk cairan. Beberapa produk juga menggunakan istilah ‘rumahan’ untuk mengukur takaran saji seperti, ukuran sendok makan, sendok teh atau cup.
Informasi ‘takaran saji’ dan ‘jumlah sajian perkemasan’ adalah dua urutan teratas yang menjadi informasi penting pada kemasan makanan. Kemudian di bawahnya diikuti informasi ‘jumlah nutrisi per sajian’ mulai dari kandungan energi, lemak, protein, karbohidrat, lemak dan seterusnya.
Contoh-Nutrition-Fact Kandungan nutrisi ini pun masih di bagi lagi ke dalam jenisnya masing-masing. Contohnya energi yang masih dipecah lagi menjadi dua, yakni energi dari kalori dan energi dari lemak yang masing-masing mempunyai komposisi tersendiri.
Begitu pula dengan lemak yang terbagi atas lemak jenuh, lemak trans, dan kolesterol. Sedangkan karbohidrat biasanya terbagi menjadi dua bagian yaitu karbohidrat gula dan karbohidrat serat. Dan masih banyak lagi kandungan lain memerlukan model penulisan serupa.

Hati-Hati Membaca Label Makanan

Saat ini banyak sekali label makanan yang diberi label “kecil” untuk menunjukkan bahwa kandungan tertentu pada makanan tersebut berjumlah kecil. Biasanya orang yang sedang berdiet akan tertarik dengan pencantuman kata-kata tersebut, karena tidak khawatir badan mereka akan melar dan bertambah gemuk.
Namun, tanpa sadar mereka akan megnonsumsinya lebih banyak sehingga embel-embel yang tadinya kecil akan menjadi besar bila dikonsumsi terlalu banyak. Hasilnya, berat badan pun bisa bertambah.
Tim peneliti dari University of Michigan menguji beberapa partisipan dengan memberi mereka beberapa kemasan makanan berisi biskuit yang diberi label ‘kecil’ dan ‘besar’ kemudian para partisipan diminta untuk memilih dan memakannya sesuka mereka.
Hasilnya, partisipan melahap lebih banyak biskuit yang diberi label ‘kecil’ dalam kondisi tanpa sadar. Dari hasil ini ditarik kesimpulan bahwa orang-orang lebih mudah tertipu kerena mereka lebih percaya pada label makanan ketimbang apa yang mereka makan.
“Hanya karena berbagai label ukuran yang berbeda-beda pada satu ukuran makanan, orang-orang akan cenderung makan lebih banyak. Di saat yang bersamaan, mereka berpikir tak makan sebanyak ukuran yang sebenarnya,” ungkap penulis penelitian Aradhna Khrishna.

Cerdas Membaca Label Makanan

Berikut ini penjelasan lebih rinci tentang bagaimana cara membaca dan memahami label makanan:
Ukuran Sajian (Serving Size): Ukuran sajian akan menunjukkan ukuran porsi atau sajian yang direkomendasikan. Jika Anda tidak terbiasa mengukur atau menimbang makanan, ukurlah porsi makanan Anda sampai dengan ukuran porsi standar. Jika Anda makan lebih atau kurang dari ukuran porsi yang direkomendasikan, maka informasi pada label nutrisi harus disesuaikan untuk mengetahui jumlah nutrisi yang Anda konsumsi (misalnya, jika Anda makan 2 kali lipat dari porsi standar, semua nilai gizi harus dikalikan 2).
Kalori (Calories): Kalori menunjukkan ukuran berapa banyak energi yang Anda dapatkan dari satu porsi makanan. Ingat bahwa jumlah porsi yang Anda konsumsi menentukan jumlah kalori yang Anda makan. Misalnya, jika Anda konsumsi 2 porsi makanan, berarti Anda konsumsi kalori 2 kali lipat dari jumlah kalori per porsi yang tercantum di label nutrisi. Salah satu ukuran yang bisa Anda jadikan dasar untuk menilai suatu produk makanan itu tinggi kalori antara lain sebagai berikut:
    40 kalori = rendah
    100 kalori = sedang
    400 kalori atau lebih = tinggi
Kalori dari lemak (Calories from Fat): Kalori dari lemak menunjukkan berapa banyak kalori dari makanan yang berasal dari lemak. Setiap gram lemak bernilai 9 kalori. Tidak lebih dari 30% dari kalori Anda dalam sehari yang berasal dari lemak. Jadi sebaiknya Anda konsumsi maksimum 3 gram lemak atau 30 kalori lemak per 100 kalori makanan.
Total lemak (Total Fat): Jumlah lemak total menunjukkan berapa banyak lemak baik itu lemak baik (lemak tak jenuh tunggal dan tak jenuh ganda) dan lemak buruk (lemak jenuh dan trans) dalam makanan. Optimalnya konsumsi lemak tidak lebih dari 3 gram per 100 kalori. Ketika membandingkan produk makanan, lihat jumlah lemak total, lemak jenuh dan kalorinya dalam tiap sajian. Pilihlah yang paling sedikit.
Lemak jenuh (Saturated Fat): Lemak jahat atau lemak jenuh ditemukan dalam berbagai makanan seeprti mentega, margarin, lemak dari daging sapi dan babi, susu full cream, telur, kelapa dan minyak kelapa serta makanan cepat saji. Sebaiknya hindari atau batasi makanan yang mengandung lemak jenuh. Asupan harian lemak jenis ini sebaiknya tidak lebih dari 10% dari asupan kalori Anda dalam sehari (kurang dari 1 gram per 100 kalori).
Lemak trans (Trans Fat): Lemak trans yang juga termasuk lemak jahat terbentuk selama proses memasak dan / atau pengolahan. Lemak ini cukup sering ditemukan dalam produk makanan komersial dan harus dihindari dalam diet.
Kolesterol (Cholesterol): Jumlah kolesterol menunjukkan berapa banyak kolesterol total, yang terdiri atas kolesterol baik (HDL) dan kolesterol jahat (LDL) dalam tiap sajian. Sebaiknya konsumsinya tidak lebih dari 300 mg per hari. Pilih produk yang jumlah kolesterolnya paling sedikit.
Natrium (Sodium): Jumlah natrium dalam tiap porsi. Sebaiknya konsumsinya tidak lebih dari 2.400 mg per hari. Pilih produk yang jumlah natriumnya paling sedikit.
Karbohidrat (Carbohydrate): Jumlah karbohidrat dalam makanan, termasuk karbohidrat sederhana dan gula, karbohidrat kompleks dan serat. Ketika makanan mengandung karbohidrat, akan lebih baik jika karbohidrat tersebut mengandung banyak serat.
Serat (Dietary Fiber): Berapa banyak serat dalam satu porsi. Ini ditemukan dalam karbohidrat kompleks seperti gandum dan biji-bijian, buah-buahan, sayuran dan kacang-kacangan. Cobalah untuk konsumsi serat 20 dan 35 gram per hari. Semakin tinggi kandungan serat dari suatu produk makanan, semakin rendah kadar gulanya.
Gula (Sugar): Jumlah gram karbohidrat per porsi yang khusus terdiri dari gula. Cara terbaik adalah dengan memilih kadar gula yang paling rendah. Saat melihat total karbohidrat, semakin dekat nilai gram gula dengan nilai total gram karbohidrat, semakin sedikit seratnya, yang artinya rasa kenyang akan semakin sedikit.
Protein: Berapa gram protein dalam satu porsi. Menjaga keseimbangan protein, karbohidrat dan lemak dalam makanan sangat dianjurkan. Jika makanan yang dipilih tidak mengandung protein, coba tambahkan makanan lain yang mengandung protein.
% AKG (Daily Values): Menunjukkan persentase angka kecukupan gizi harian Anda dari produk makanan tersebut. Namun yang perlu dicatat adalah hal ini didasarkan pada diet 2.000 kalori. Secara umum, nilai sebesar 5% dianggap rendah dan nilai 20% dianggap tinggi.
Vitamin dan Mineral: Berapa banyak vitamin dan mineral dalam tiap porsi. Anda harus mencapai 100% untuk semua vitamin dan mineral yang dibutuhkan. Untuk memastikan Anda mendapatkan asupan yang dibutuhkan sehari-hari, Anda bisa konsumsi multivitamin.
Jumlah yang Dianjurkan (Recommended Amounts): Jumlah harian yang direkomendasikan untuk setiap zat gizi untuk diet 2.000 kalori dan 2.500 kalori. Jika Anda perlu mengkonsumsi lebih banyak atau kurang dari 2.000 atau 2.500 kalori per hari untuk menjaga berat badan yang sehat, jumlah yang direkomendasikan untuk lemak, karbohidrat dan protein juga akan berubah.
Kalori per gram (Calories per Gram): Menunjukkan jumlah kalori yang terkandung dalam tiap makronutrien (lemak, karbohidrat dan protein). Dan sebaiknya pilih makanan yang seimbang, mengandung semua nutrisi.

Trik Cerdas Menghemat

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gajian memang selalu ditunggu-tunggu. Biasanya, langsung terbayang berbagai tagihan yang sudah menunggu dan harus dibayar. Alasan itulah yang biasanya membuat Anda jadi berpikir ulang untuk menghabiskan gaji bulanan. Bagaimana mungkin kita bisa menghabiskan gaji bulanan, sementara kita takut uang tersebut tidak cukup bagi keluarga?
Anda tidak akan diminta untuk menghabiskan gaji untuk hura-hura, melainkan untuk masa depan yang cerah. Ya, tentunya gaji Anda harus dihabiskan sesuai dengan kebutuhan Anda dan keluarga. Salah satu upayanya, dalam membagi gaji bulanan, adalah cermat memilah kebutuhan.
Seorang perencana keuangan Indonesia, Ahmad Gozali, berbagi pada untuk membuat budgeting gaji bulanan agar habis tanpa harus menyesal. Berikut pembagiannya:

* Pos Sosial
Coba sisihkan gaji bulanan Anda minimal sebesar 2,5 persen  untuk zakat dan maksimal 10 persen  untuk amal dan kegiatan sosial lainnya. Pos sosial ini dapat digunakan untuk membantu orang di sekeliling Anda. Misalnya, ada kerabat yang sakit, atau Anda harus membeli kado pernikahan teman Anda.

Dengan membuat pos sosial, biaya untuk kegiatan tersebut tak akan mengganggu pengeluaran rutin Anda. Bayangkan jika dalam sebulan ada empat teman yang menikah? Pasti membutuhkan biaya besar, kan.

* Pos Utang
Utang adalah salah satu pengeluaran dengan skala prioritas tinggi. Sebelum Anda membelanjakan gaji untuk hiburan atau gaya hidup, ada baiknya bayarlah hutang Anda terlebih dahulu. Poskan 30 persen  gaji bulanan Anda pada pos hutang ini, agar nantinya tidak berbunga dan hutang Anda semakin bertambah.

Buatlah daftar tagihan yang biasa Anda terima setiap bulan. Mulai dari kartu kredit, cicilan rumah, mobil dan sebagainya. Lalu sesuaikan dengan 30 persen pendapatan Anda. Dari perhitungan tadi,  berpikir ulang sebelum membeli sesuatu dengan berhutang.
* Pos Masa Depan dan Biaya Hidup
Setelah ketiga pos dengan skala prioritas utama sudah dialokasikan,  gaji bulanan Anda kepada pos yang sifatnya fleksibel atau dapat diutak-atik sesuai dengan kebutuhan. Masukkan 40 persen  dari gaji bulanan Anda untuk belanja kebutuhan sehari-hari seperti makanan, listrik, internet, telepon, rumah, bayar sekolah anak, transportasi dan iuran lainnya.

* Pos Gaya Hidup
Hiburan memang dibutuhkan untuk membuat pikiran fresh kembali setelah bekerja keras. Jadi, sebaiknya memang ada alokasi dana untuk menonton di bioskop, membeli buku baru, baju baru atau liburan bersama keluarga. Namun, pengalokasian dananya harus disesuaikan juga dengan kebutuhan lain yang lebih penting. Masukkan porsi gaji bulanan Anda sebesar 15 persen untuk pos energy boost ini

Tuesday, June 11, 2013

8 Mitos Kecantikan yang Salah

  1. Hanya Jenis Kulit Kering yang Harus Menggunakan Pelembab
Pelembab hanya akan membuat kulit berminyak Anda menjadi lebih berminyak. Pelembab membuat kulit Anda bekerja lebih keras dalam memproduksi minyak.
  1. Menyisir Rambut 100 Kali Per hari Akan Membuat Rambut Bersinar
Jangan pernah menyisir rambut Anda terlalu sering karena hanya akan membuat folikel rambut melemah dan akan menyebabkan kerusakan.
  1. Menyilangkan Kaki Sebabkan Varises
Salah. Bahkan, berdiri yang terlalu seringlah yang dapat menyebabkan varises. Jika Anda mempunyai pekerjaan yang kebanyakan aktivitasnya memaksa Anda untuk berdiri sepanjang waktu, pembuluh darah Anda bekerja keras untuk memompa darah dari kaki ke jantung Anda, sehingga menyebabkan pengumpulan darah, bengkak, dan urat biru yang akan tampak pada kaki Anda.
  1. Produk Mahal Lebih Efektif
Pada setiap kategori harga, ada banyak produk yang bagus, tapi juga ada beberapa yang tidak berfungsi dengan baik. Semuanya bergantung pada formula yang terkandung dalam produk dan bagaimana reaksi produk tersebut dengan kulit Anda.
  1. Jerawat Akan Hilang dengan Sendirinya Seiring Bertambahnya Usia
Ini bukan tentang usia, melainkan tentang hormon dan genetik. Tidak semua remaja memiliki masalah jerawat pada usianya. Jika Anda tidak mengalami masalah ini pada masa remaja Anda, bukan berarti di masa depan Anda akan terbebas dari tumbuhnya jerawat yang membandel.
  1. Pasta Gigi Dapat Menyingkirkan Jerawat
Memang benar, menthol yang terdapat pada pasta gigi dapat memberikan efek dingin pada jerawat. Tapi bahan-bahan pasta gigi yang lain dapat menyebabkan iritasi kulit.
  1. Produk Berbahan Dasar Natural Lebih Baik
Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan produk “natural”? Hal ini sangat susah untuk ditebak. Banyak produk yang mengaku terbuat dari bahan organik atau 100% alami, tapi siapa yang tahu kebenarannya? Dan hanya karena produk yang digunakan bukan buatan manusia, bukan berarti produk tersebut tidak bisa dipercaya. Gunakanlah produk yang menurut Anda berhasil mengatasi masalah Anda.
  1. Mencukur Akan Membuat Bulu Tumbuh Kasar dan Tebal
Tidak benar. Justru tidak mencukur bulu kaki akan membuat kaki Anda terlihat liar. Bercukur tidak akan mengubah tekstur ketebalan rambut setiap individu.
Nah Beauty Lovers, semoga artikel di atas bermanfaat ya!

Monday, April 29, 2013

9 Tips for a Longer Life that You Shouldn’t Be Following



Extend Your Life
"Stop drinking coffee and alcohol." "Take an aspirin daily." How many times have you heard that advice for adding years to your life? Turns out, lots of long-held wisdom just isn't true. Read on to see which suggestions you should ignore and what actually ups longevity. Photo by Getty Images.

1. Lay off the java.
You've probably read that multiple cups of coffee a day can be bad for you (jitter city), but research published in the New England Journal of Medicine may prove the opposite. Male and female participants who had two or three cups a day and didn't smoke were 10% and 13% less likely, respectively, to have died during the 14-year-long study than those who never or rarely drank coffee. Men and women who drank a single daily cup were 6% and 5% less likely, respectively, to pass away. According to the researchers, more cups mean a lower risk of stroke, diabetes and heart and respiratory disease. But watch the cream and sugar-extra fat and calories could negate any longevity benefits.

Related: 8 Foods That Fight Stress and Anxiety.

2. Get eight hours of sleep every night.
While research suggests snoozing fewer than six or more than nine hours a night raises your mortality risk, "everyone has different sleep needs," says Shelby Harris, PsyD, director of the behavioral sleep medicine program at Montefiore Medical Center in Bronx, NY. So if you wake naturally after only, say, six-and-a-half hours a night, forcing yourself to reach eight hours won't lengthen your life. To learn how much sleep you need, try awakening without an alarm for a week, if you can swing it. If you feel good and have enough energy most of the day, you've found your ideal amount of rest.

3. Lower your body mass index (BMI).

According to a study published in the Journal of the American Medical Association, weighing a little more can lengthen your life span. Adults with a BMI that qualified them as overweight but not obese (that's between 25 and 29.9) were 6% less likely than all others in their age groups to die. While BMI isn't always an accurate measurement of a person's health risks, registered dietitian Jen Brewer, author of Stop Dieting and Start Losing Weight, says if the extra weight comes from muscle mass, you're more likely to have lower cholesterol levels and a better ratio of HDL (good cholesterol) to LDL (bad cholesterol). It may also lower your risk for life-threatening heart disease, stroke and diabetes. And that's good for staying alive.

4. Don't worry, be happy.
Actually, being a glass-half-empty kind of person may keep you kicking longer. In a study published in Psychology and Aging, 65- to 96-year-olds who thought life would get worse outlived those who anticipated better days ahead. "Our findings revealed that being overly optimistic was associated with a greater risk of disability and death within the following decade," says lead author Frieder R. Lang, PhD, of the University of Erlangen-Nuremberg in Germany. "Pessimism about the future may encourage people to take health and safety precautions."

5. Take a daily aspirin.
Popping that pill can help you live longer by preventing heart attacks, strokes and even cancer-right? "If you're a healthy, 45-year-old female, it may not make a difference," says Nieca Goldberg, MD, medical director of the Joan H. Tisch Center for Women's Health at New York University's Langone Medical Center in New York City. In fact, taking a daily aspirin can lead to bleeding, allergies and upset stomach. Ask your doctor if you can skip the pill, suggests Dr. Goldberg.

Related: 8 Environmental Beauty Hazards To Avoid

6. Drink 8 glasses of water a day.
Once believed to be the amount everyone needs for proper hydration, a longevity essential, a 2002 study from Dartmouth Medical School in Hanover, NH, debunked the 8X8 rule. As Dr. Goldberg explains, "there's no magic number of glasses," emphasizing it's more about getting fluids, not necessarily from straight-up H20. Herbal tea and juices are hydration helpers (though soda isn't), but fruits and vegetables (like celery and leafy greens) are an even healthier way to get your liquids.

7. Milk does the body good.
You're taught that drinking it by the glassful keeps bones healthy and prevents fatal injuries. Yet a 12-year-long Harvard study found that women who drink milk three times a day break more bones than women who drink less than one glass of milk per week. While lowfat dairy may agree with you, calcium is what's key for strong bones. You can get it from leafy greens, beans, vitamin D (sunshine!) and even lifting weights.

8. Cut out booze.
A daily glass of wine not only can help your heart but also add years to your life. University of Texas at Austin researchers found that moderate drinking, such as a small glass of wine (about four ounces) a day, reduces mortality among older and middle-aged adults. Dr. Goldberg says it's because heart disease is the leading killer of women, and wine is chockfull of antioxidants, which prevent serious sickness. So fill 'er up-without overflowing that glass.

Related: Anti-Aging Treatments For Your Youngest Skin Ever

9. Take a multivitamin.
Even though half of all adults pop one, the 2011 Iowa Women's Health Study found that women taking multivitamins don't live longer than those who get their nutrients from food alone. Only calcium supplements are linked to a lower death risk, with 37% of users dying compared to 43% of nonusers in the study. Researchers' conclusion: Get the vitamins and minerals from fruit and vegetables, not capsules.

Wednesday, April 24, 2013

Banyak Jalan Menuju Harvard

Kuliah di Harvard, Lewat Jalur Biasa atau Beasiswa?” Ini salah satu pertanyaan yang diterima Donny Eryastha saat dirinya diterima di program Master of Public Administration di Kennedy School of Government, Harvard University. Lelaki yang menerima gelar sarjananya di Universitas Indonesia ini mengaku heran dengan pertanyaan tersebut.

Pasalnya, banyak orang begitu mengagung-agungkan beasiswa untuk mewujudkan impiannya bersekolah di luar negeri. Padahal, banyak cara untuk melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri dengan biaya yang minim pula.

Donny tidak memungkiri bahwa biaya pendidikan di luar negeri itu mahal sekali. Namun, melalui Indonesia Mengglobal, dia berpesan agar Anda yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri tak harus berhenti berusaha hanya karena gagal meraih beasiswa tertentu.

Jadi, jangan khawatir. Masih banyak jalan menuju Harvard, juga ke universitas lainnya di luar negeri. Simak informasi dan tips berikut ini dari Donny.

-----

"Tentang Beasiswa: Bagaimana Cara Membiayai Kuliah di Luar Negeri?"    “Kamu kuliah di Harvard jalur biasa atau jalur beasiswa?”
    “Dapat beasiswa dari mana, kok bisa kuliah di Harvard?”

Itu adalah beberapa contoh pertanyaan pertama yang sering orang sampaikan ke saya begitu mereka tahu saya pernah kuliah di Harvard. Semua pertanyaan sah-sah saja, tapi yang saya heran, kenapa pertanyaan-pertanyaan pertama selalu tentang beasiswa? Bukannya kalau kagum atau heran saya kuliah di Harvard harusnya yang ditanyakan adalah bagaimana caranya bisa diterima? Toh kalaupun sesorang dapat beasiswa belum tentu dia bisa diterima di Harvard. Di sebagian besar sekolah yang baik, seleksi penerimaan mahasiswa terpisah dengan seleksi untuk beasiswa. Tidak ada hubungannya kemampuan membayar seseorang dengan diterima atau tidaknya di sekolah.

Lebih umum lagi, saya juga melihat perhatian yang membabi buta pada beasiswa. Ada banyak mailing list beasiswa, website beasiswa, Twitter beasiswa dan sejenisnya, tapi sedikit sekali tempat berdiskusi tentang kualitas sekolah dan bagaimana cara diterima di sekolah yang baik.

Saya mengerti sekolah di luar negeri itu mahal sekali. Kalau kita membandingkan pendapatan per kapita orang Indonesia dengan biaya kuliah di luar negeri, sepertinya kuliah di luar negeri itu tidak mungkin dibiayai sendiri. Jadi harus dapat beasiswa. Maka wajarlah muncul pertanyaan-pertanyaan seperti tadi. Yang ingin saya luruskan melalui tulisan ini adalah kesalahan menaruh perhatian membabi buta terhadap beasiswa sehingga melupakan hal lain yang lebih penting. Saya juga ingin menjelaskan bahwa membiayai kuliah di luar negeri itu mungkin sekali, dan ada banyak caranya.

Berikut adalah dua prinsip yang harus selalu dipegang:

1. Fokuslah untuk bisa diterima di sekolah yang baik, bukan mendapatkan beasiswa.


 Prinsip utama dalam merencanakan sekolah di luar negeri adalah fokuslah untuk bisa diterima di sekolah yang baik, bukan mendapatkan beasiswa. Saya ulangi lagi: FOKUSLAH UNTUK BISA DITERIMA DI SEKOLAH YANG BAIK, BUKAN MENDAPATKAN BEASISWA. Saya ulangi sekali lagi: FOKUSLAH UNTUK BISA DITERIMA DI SEKOLAH YANG BAIK, BUKAN MENDAPATKAN BEASISWA.

Saya sering tercengang bagaimana banyak sekali orang bisa lupa bahwa dalam proses persiapan sekolah di luar negeri, tujuan utama seharusnya adalah dapat bersekolah di sekolah yang sebaik mungkin. Beasiswa hanyalah salah satu alat yang memungkinkan kita sekolah.

Saya umpamakan orang yang merencanakan sekolah ke luar negeri dengan seorang pria yang mencari istri. Saya umpamakan juga proses mendapatkan beasiswa dengan proses membeli mobil untuk menarik perhatian si calon istri. Fokus utama si pria seharusnya adalah memilih wanita yang akan dijadikan istri dan mengusahakan agar lamarannya diterima wanita tersebut, BUKAN membeli mobil agar dapat menarik perhatian wanita. Membeli mobil hanyalah suatu alat untuk menarik perhatian wanita, dan itu bukan satu-satunya alat. Memiliki mobil pun bukan jaminan lamaran si pria diterima wanita tersebut.

Fokus untuk mendapatkan beasiswa bisa berbahaya, karena:
a. Fokus pada beasiswa bisa membuat pelamar mengkompromikan kualitas pendidikan.
Ambil contoh seseorang yang berencana mengambil MBA di Amerika Serikat. Si pelamar ini fokus untuk mendapatkan beasiswa. Riset yang dia lakukan adalah mencari tahu beasiswa apa yang tersedia untuk program MBA di Amerika. Dari Google dia mendapat berbagai informasi.

Singkat kata si pelamar ini akhirnya berkuliah di Executive MBA Program Walden University. Padahal, universitas ini termasuk abal-abal. Padahal  (lagi), program-program MBA terbaik di Amerika juga memberikan beasiswa, cuma dia tidak tahu saja, karena dia terlalu fokus mencari beasiswa, bukan mencari tahu program-program mana saja yang terbaik baru kemudian mencari tahu cara membiayai kuliah di sana.

Contoh lain, beberapa beasiswa membatasi sekolah yang boleh dilamar, sesuai dengan anggaran beasiswa. Di Amerika Serikat misalnya, banyak sekali universitas swasta yang sangat baik (misalnya universitas-universitas Ivy League) yang biaya kuliahnya lebih mahal daripada universitas negeri. Betapa sedihnya saat seorang penerima beasiswa terpaksa memilih sekolah yang lebih buruk kualitasnya karena himbauan atau bahkan larangan si pemberi beasiswa.

b. Periode aplikasi sebagian beasiswa tidak cocok dengan periode aplikasi sekolah.
Ambil contoh seseorang yang berencana mengambil master di bidang ekonomi di Inggris di tahun 2013. Si pelamar ini fokus untuk mendapatkan beasiswa dulu baru melamar ke sekolah. Beasiswa yang paling umum untuk orang Indonesia adalah Chevening. Aplikasi Chevening untuk tahun 2013 dibuka dari Oktober sampai Desember 2012. Penerima beasiswa diumumkan pada bulan Maret 2013.

Sementara itu, sebagian besar universitas di Inggris memberlakukan sistem rolling admission, artinya aplikasi yang masuk akan langsung diproses dan hasilnya diumumkan segera. Tidak ada batas waktu aplikasi; aplikasi diterima dan diproses sampai seluruh kursi terisi. Semakin lama, kursi yang terisi semakin banyak. Untuk kuliah tahun 2013, kebanyakan universitas mulai menerima aplikasi bulan September 2012. Pada bulan Januari 2013, sebagian besar kursi di sekolah-sekolah terbaik (seperti Oxford, Cambridge, dan London School of Economics) sudah terisi. Jika si pelamar menunggu sampai Chevening mengumumkan hasil beasiswa, baru melamar sekolah, katakanlah paling cepat di bulan April 2013, hampir dapat dipastikan dia tidak akan diterima di sekolah-sekolah terbaik. Bukan karena aplikasinya tidak berkualitas, tapi karena semua kursi sudah terisi. Dia terlambat memasukkan aplikasi.

Katakanlah si pelamar juga tidak bermaksud melamar ke sekolah-sekolah terbaik. Pertama, Chevening mensyaratkan pengalaman kerja minimal dua tahun setelah lulus S1, sedangkan universitas sendiri tidak mensyaratkan hal ini. Kedua, seandainya si pelamar tidak mendapat beasiswa Chevening dan dia tidak jadi melamar ke sekolah karena itu, dia harus membuang waktu minimal satu tahun lagi sampai periode aplikasi beasiswa selanjutnya. Tidak ada jaminan juga tahun depannya dia akan mendapat beasiswa Chevening. Sampai berapa tahun dia harus menunggu sampai bisa mewujudkan mimpinya sekolah di Inggris? Padahal, kalau saja dia langsung  melamar ke beberapa sekolah di Inggris (tanpa menunggu dia dapat beasiswa Chevening atau tidak) kemungkinan besar dia diterima sekolah (karena dia melamar ke beberapa sekolah).

c. Beasiswa mensyaratkan ketentuan yang mungkin tidak sejalan dengan ketentuan sekolah dan minat pelamar.
Lembaga pemberi beasiswa selalu punya misi, misalnya ingin memberdayakan kelompok masyarakat tertentu. Maka wajar jika mereka lebih memprioritaskan, atau bahkan memberi kuota khusus, untuk kelompok tertentu, misalnya wanita, pegawai negeri, orang yang berasal dari Indonesia Timur, atau korban tsunami. Mereka juga memprioritaskan atau hanya memberikan beasiswa untuk bidang tertentu, misalnya studi gender, studi hak azazi manusia, pertanian, atau tata kelola sumber daya air. Tentu itu haknya si pemberi beasiswa mensyaratkan macam-macam.

Tapi bagaimana kalau profil si pelamar dan minatnya tidak cocok dengan ketentuan beasiswa? Ambil contoh seorang pria pegawai bank swasta, asal Jakarta, yang ingin mengambil MBA. Akan sulit baginya mencari beasiswa yang cocok. Apakah dia harus mengubah bidang studi pilihannya demi memperbesar kemungkinan mendapat beasiswa? Atau dia harus menunggu sampai ada beasiswa yang mensyaratkan profil yang cocok?

2. Ada banyak sekali cara untuk membiayai sekolah, bukan hanya beasiswa.
 Jadi kalau tidak dengan beasiswa, bagaimana caranya membiayai kuliah di luar negeri? Pertama, saya tidak pernah mengatakan ‘jangan cari beasiswa’. Beasiswa tetap merupakan salah satu sumber pembiayaan kuliah di luar negeri; yang saya katakan adalah fokuslah untuk dapat diterima di sekolah yang baik, dan usahakanlah berbagai sumber pembiayaan, termasuk dengan melamar secara strategis ke beberapa beasiswa.

Mari kita rinci berbagai alternatif pembiayaan untuk kuliah di luar negeri:

1. Beasiswa dari sekolah
 
Ambil contoh seorang yang ingin kuliah di Columbia University Graduate School of Journalism, Amerika Serikat, salah satu sekolah jurnalistik terbaik di dunia. Saya sama sekali tidak familiar dengan sekolah ini, tapi mampir sebentar saja di website sekolah ini, saya temukan daftar sekitar 100 jenis beasiswa yang ditawarkan sekolah sendiri untuk mahasiswanya.

Beasiswa ini biasanya dikelola langsung oleh sekolah, proses aplikasinya bersamaan dengan proses aplikasi sekolah, dan proses seleksinya dilakukan sendiri oleh sekolah (terpisah dari seleksi penerimaan mahasiswa). Kemungkinan besar, dari 100 beasiswa ini ada beberapa yang cocok dengan profil si pelamar. Yang paling penting adalah si pelamar harus diterima dulu di sekolah tersebut, sehingga dia bisa eligible untuk berbagai beasiswa tersebut.

2. Beasiswa dari luar sekolah

a. Beasiswa dari badan eksternal
Melanjutkan contoh kita, misalkan si pelamar mencari beasiswa lain yang disediakan pihak luar sekolah yang bisa dilamar calon mahasiswa jurnalistik dari Indonesia. Sebentar saja riset di internet, dia menemukan banyak beasiswa yang bisa dia lamar, seperti beasiswa Fulbright, Ford Foundation, USAID, Foreign Press Association, International Center for Journalists, dan lain-lain.

b. Beasiswa dari tempat kerja
Si pelamar pun bisa bernegosiasi ke tempatnya bekerja apakah mungkin ia disponsori untuk kuliah di luar negeri, baik berupa pembayaran uang kuliah, pembayaran seluruh atau sebagian gajinya saat dia sekolah, dan lain-lain.

3. Kerja paruh waktu

Kalau si pelamar diterima sekolah, saat dia mulai sekolah pun banyak cara membiayai kuliahnya, termasuk dengan bekerja paruh waktu. Dia bisa bekerja di sekolahnya sendiri misalnya sebagai teaching fellow, teaching assistant, researcher, assistant librarian, dan support assistant, Dia juga bisa bekerja di luar kampus misalnya sebagai penulis, penerjemah, tutor, researcher, bahkan profesi-profesi blue collar seperti pelayan, penjaga toko, pencuci piring.

4. Tabungan

Tentu saja si pelamar bisa membiayai sebagian biaya kuliahnya menggunakan tabungan pribadinya atau keluarganya.

5. Pinjaman (student loan)

Pelamar pun bisa mengambil pinjaman (student loan) yang periode cicilannya biasanya baru dimulai saat si peminjam sudah lulus dan bekerja, dan baru diharapkan lunas 10-20 tahun kemudian. Tidak semua orang yang kuliah di luar negeri tanpa beasiswa itu kaya raya. Mahasiswa asal Cina, India, dan Amerika Serikat sendiri berani mengambil pinjaman karena mereka tahu penghasilan mereka setelah lulus akan bisa meningkat signifikan. Anehnya, banyak calon mahasiswa Indonesia yang hanya berani menunggu beasiswa, entah sampai kapan, untuk mau kuliah. Padahal, orang-orang yang sama ini berani mengambil pinjaman untuk membeli harta seperti rumah atau mobil yang tidak akan meningkatkan potensi pendapatan mereka.

6. Donatur individu

Si pelamar pun bisa mendekati donatur individu yang potensial, misalnya alumni asal Indonesia dari sekolah yang ia tuju. Ia pun bisa melakukan kampanye pengumpulan sumbangan dari masyarakat luas. Saya sudah beberapa kali menyaksikan orang-orang yang mengumpulkan sumbangan agar bisa kuliah. Mereka sukses membiayai sekolahnya, dan setiap semester mereka memberikan laporan dan ucapan terima kasih bagi para donatur. Masih sangat sedikit orang Indonesia yang diterima di universitas-universitas terbaik dunia; jadi kalau anda sampai diterima, yakinlah, orang-orang akan bangga dan senang membantu anda.

-----

Jadi, ada banyak, banyak sekali cara untuk membiayai kuliah di luar negeri, tinggal tergantung usaha kita. Merefleksikan pengalaman pribadi, pada bulan Maret tahun 2010, saya berada di situasi di mana Saya diterima di enam universitas: Harvard, Columbia, Cornell, Chicago, New York University, dan London School of Economics, tapi belum mendapat satupun beasiswa. Sampai saat itu saya sudah melamar ke paling tidak 11 beasiswa: enam beasiswa internal Harvard Kennedy School, ditambah beasiwa eksternal seperti Fulbright (dua kali), Sampoerna Foundation (dua kali), Joint Japan-World Bank, dan lain-lain, saya sudah lupa apa lagi.

Saya tidak mendapat satu pun beasiswa ini. Selain itu, Saya pun sudah mendekati berbagai yayasan, walaupun Saya tahu mereka tidak menawarkan beasiswa. Akhirnya Saya mendapat beasiswa dari Rajawali Foundation. Saya tidak melamar ke beasiswa ini; Saya bahkan tidak tahu bahwa beasiswa ini ada. Harvard langsung mengalokasikan beasiswa ini begitu Saya diterima. Beruntung? Mungkin saja, tapi Saya lebih melihatnya sebagai hasil yang sesuai dengan usaha dan strategi yang optimal. Kalau Saya tidak meneruskan melamar sekolah saat ditolak beasiswa, mungkin sampai sekarang Saya belum sekolah.

Mencari sumber pembiayaan sekolah memang repot: menyita energi, waktu, dan pikiran. Tapi seperti yang dijelaskan di atas, caranya banyak. Apakah kita bisa mengatakan dengan jujur bahwa usaha kita untuk bisa kuliah di luar negeri sudah optimal? Anda harus luar biasa sial kalau tidak mendapat hasil sama sekali walau sudah mengusahakan semua cara yang dijelaskan di atas. Kalau masalahnya adalah ‘malas’,  Saya tidak ada komentar :)